Monday, March 22, 2010

Guru dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)

Penulis: Sudirman Siahaan

Seringkali kita mendengar bahwa “Sekolah yang ngetren” dewasa ini adalah sekolah yang telah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di dalam kegiatan pembelajaran. Itulah sebabnya berbagai pimpinan sekolah terutama di kota-kota besar berupaya untuk melengkapi sekolahnya dengan fasilitas TIK. Pemahaman yang demikian ini juga menghinggapi para guru sehingga “guru yang dianggap ngetren” dewasa ini adalah guru yang memanfaatkan TIK dalam membelajarkan para peserta didiknya. Itulah sebabnya, sebagian para guru berupaya untuk melengkapi dirinya dengan fasilitas TIK dan mempelajari cara-cara memanfaatkannya dalam kegiatan pembelajaran.

Ada juga pemikiran yang berkembang bahwa TIK identik dengan komputer dan internet. Oleh karena itu, apabila para guru ingin dikategorikan telah memanfaatkan TIK, maka guru yang bersangkutan harus dapat menggunakan komputer dan internet. Seiring dengan pemahaman yang demikian ini, tawaran untuk memiliki komputer laptop secara kredit berdatangan kepada para guru. Terlepas dari faktor yang menjadi pertimbangan, tawaran kredit pemilikan laptop ini pada umumnya mendapat respons positif dari para guru.

Adalah satu hal yang mulai banyak terlihat bahwa para guru menjinjing atau melengkapi dirinya dengan laptop saat menghadiri berbagai kegiatan atau pertemuan, apakah kegiatan pelatihan, lokakarya, atau seminar. Kebiasaan guru mencatat atau menulis di atas kertas hal-hal penting selama pertemuan telah mulai ditinggalkan secara berangsur-angsur. Para guru sudah mulai beralih ke laptop. Fungsi laptop bagi guru memang tidak hanya untuk sekedar catat-mencatat hal-hal penting selama mengikuti suatu pertemuan atau kegiatan tetapi laptop telah difungsikan untuk berbagai kepentingan lainnya.

Fungsi laptop telah dikembangkan penggunaannya oleh guru, yaitu antara lain adalah untuk (1) membuat Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di mana guru tidak perlu menulis ulang beberapa hal yang bersifat umum atau yang sama karena didukung oleh fasilitas “copy and paste” yang tersedia di laptop; (2) mempelajari materi sajian yang tersedia atau dikemas di dalam bentuk digital; (3) membuat dan mempresentasikan materi sajian; (4) mengolah hasil-hasil penilaian prestasi belajar prestasi belajar peserta didik; (5) mengakses berbagai dokumen/artikel/tulisan/informasi dari internet (internet browsing); (6) mengirim dan menerima informasi atau dokumen elektronik yang disajikan lewat jaringan elektronik; dan (7) mengolah dan menganalisis data/informasi.

Berbagai bentuk kecenderungan sikap guru mengenai pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut:

1. Guru yang berinisiatif untuk merancang dan memanfaatkan TIK dalam kegiatan pembelajarannya.

Guru tipe pertama ini mempunyai inisiatif sendiri untuk merancang dan memanfaatkan TIK dalam kegiatan pembelajaran yang dikelolanya. Ada dorongan atau motivasi yang tumbuh dan berkembang di dalam diri guru sehingga dirinya tergugah atau terpanggil untuk mengenalkan sesuatu pembaharuan kepada peserta didiknya. Inisiatif untuk mencari informasi, mempelajari dan atau melakukan sendiri inovasi (bentuk inovasi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah pemanfaatan TIK untuk kepentingan pembelajaran) datang sepenuhnya dari kesadaran diri guru sendiri.

Rasa keterpanggilan yang berkembang di dalam diri guru yang senantiasa mendorong untuk mencari informasi atau bahkan mempelajari berbagai inovasi atau kemajuan yang telah dikembangkan atau dikenalkan di tempat lain, baik secara kelembagaan maupun secara perseorangan. Kemudian, inovasi yang diketahui dan dipelajari guru ini dibawa ke dalam kelas untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pembelajaran peserta didiknya. Guru tipe yang demikian ini juga aktif untuk melakukan sendiri eksperimentasi termasuk pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajarannya.

Guru tipe pertama ini akan tetap memilliki komitmen yang tinggi untuk mengenalkan atau melakukan pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran sekalipun tidak ada dukungan dari pimpinan sekolah. Yang menjadi prinsip di dalam diri guru adalah bagaimana memberikan yang terbaik bagi kemajuan belajar para peserta didiknya sekalipun mungkin membutuhkan pengorbanan, baik dalam arti waktu, tenaga maupun finansial. Ada kepuasan tersendiri yang dinikmati guru manakala dirinya berhasil mengenalkan atau melakukan sesuatu pembaharuan bagi kepentingan peserta didiknya.

2. Guru yang Memanfaatkan TIK dalam Kegiatan Pembelajaran karena Diperintah

Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran baru dilakukan guru apabila pimpinan sekolah menginstruksikannya. Manakala tidak ada instruksi dari pimpinan sekolah untuk memanfaatkan TIK dalam kegiatan pembelajaran, maka guru tipe kedua ini tidak akan mau repot-repot dengan TIK. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru cenderung hanya melanjutkan cara-cara yang selama ini telah dilakukannya. Tidak ada inisiatif yang berasal dari diri guru untuk mencoba melakukan pembaharuan termasuk pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan cara-cara mengelola kegiatan pembelajaran yang dilakukannya juga adalah meniru cara-cara yang telah pernah dilakukan oleh gurunya ketika dirinya masih berstatus sebagai peserta didik.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa guru ini adalah guru yang ”baru mau melakukan pembaharuan dalam kegiatan pembelajaran yang dikelolanya apabila ada instruksi atau perintah dari pimpinan sekolah”. Atau, guru tipe kedua ini adalah guru yang sekedar melaksanakan tugas pembaharuan (termasuk pemanfaatan TIK untuk pembelajaran) karena diinstruksikan oleh pimpinan sekolah. Kelemahan yang terjadi adalah kecenderungan ”kurang kepedulian” (tidak terlalu ”concern”) terhadap proses dan hasil kegiatan pembaruan. Kalau ada masalah yang terjadi dalam melaksanakan pembaharuan, maka guru tipe ini merasa bukan menjadi tanggungjawabnya karena tugasnya adalah ”sebatas melaksanakan instruksi/perintah Kepala Sekolah”.

3. Guru Memanfaatkan TIK dalam Kegiatan Pembelajaran berdasarkan Pamrih

Ada ungkapan yang mewabah akhir-akhir ini yang memperlihatkan bagaimana respon atau tanggapan seseorang terhadap suatu kegiatan yang ditugaskan kepada dirinya. Ungkapan tersebut biasanya diajukan dalam bentuk pertanyaan, yaitu: ”Apa manfaat yang akan saya peroleh kalau melaksanakan kegiatan yang ditugaskan?”. Analoginya di bidang pembelajaran adalah: ”Apa manfaat yang akan saya peroleh kalau melaksanakan kegiatan pembaharuan atau pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran?”. Kejelasan mengenai manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh, akan mewarnai kecenderungan sikap.

Kalau tidak ada kejelasan tentang manfaat yang akan diperoleh, maka kecenderungan sikap yang diperlihatkan adalah menolak melaksanakan kegiatan yang ditugaskan. Sebaliknya, guru akan memperlihatkan sikap yang responsif/positif manakala jelas manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh. Artinya, ada pamrih untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu kegiatan pembaharuan termasuk kegiatan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran.



4. Guru Memanfaatkan TIK dalam Kegiatan Pembelajaran kalau Sudah Terbukti Manfaatnya

Untuk mau atau bersedia melakukan pembaharuan dalam kegiatan pembelajaran termasuk pemanfaatan TIK, guru tipe keempat ini mensyaratkan harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana hasil atau bukti dari pelaksanaan pembaharuan atau penerapan TIK dalam pembelajaran yang telah dilakukan di tempat lain. Kalau belum ada bukti mengenai keberhasilan penerapan pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran di suatu lokasi, maka guru tipe keempat ini tidak akan bersedia (merasa ”reluctant”) untuk memanfaatkan TIK dalam kegiatan pembelajaran di sekolahnya. Apabila diminta untuk mencoba menerapkan pemanfaatan TIK, maka dia akan mengatakan ”Saya perlu bukti terlebih dahulu dari sekolah yang telah menerapkan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran”.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa guru tipe keempat ini selalu menuntut adanya bukti terlebih dahulu tentang keberhasilan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Sejauh belum ada informasi tentang keberhasilan pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran, maka kecenderungan sikap yang diperlihatkan adalah menolak melaksanakan pemanfaatan TIK bagi peserta didiknya. Guru tipe keempat ini juga tidak mempunyai keinginan untuk mau mencoba terlebih dahulu gagasan pemanfaatan TIK kepentingan pembelajaran bagi peserta didiknya. Di sisi lain, guru ini akan sangat peduli (concern) dan memperlihatkan komitmen yang tinggi untuk penerapannya apabila dia sudah benar-benar mengetahui tentang keberhasilan pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran.

Demikianlah setidak-tidaknya ada 4 (empat) kecenderungan sikap guru terhadap upaya pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran. Tulisan ini didasarkan atas pengamatan umum tentang kecenderungan sikap guru terhadap pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran. Tentunya diperlukan adanya tindak lanjut berupa hasil penelitian mengenai kecenderungan sikap guru terhadap upaya pemanfaatan TIK dalam kegiatan pembelajaran.

Sumber : www.e-dukasi.net

Read More......

Friday, August 22, 2008

Pengenalan Komputer untuk Anak-Anak



Suatu hari seorang guru TK berbagi pengalaman dengan saya. Di awal masa dia mengajar di TK dia bingung bagaimana memperkenalkan komputer pada anak-anak usia dini. Taman Kanak-Kanak ini juga menyediakan pelajaran komputer untuk pertama kalinya. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana mengajar komputer pada anak-anak itu. Terlebih pelajaran ini diperkenalkan juga pada anak-anak Kelompok Bermain.


Ketika dia bergabung dalam kelas komputer dia menemukan teman guru yang mengajar komputer mendapatkan kesulitan-kesulitan. Anak-anak itu tidak dapat duduk dengan baik, kadangkala mereka menendang CPU atau menjatuhkan mouse atau menekan semua tombol.

Setelah beberapa kali pertemuan ketika guru komputer telah menjelaskan teori dan anak-anak itu sudah mencoba mengoperasikan, mereka menikmati pelajaran ini. Dimulai dengan menghidupkan monitor, menunggu layar siap, menggerakkan mouse, memilih program, mengetik nama mereka, mulai memainkan game edukatif. Tentu saja guru membantu mereka dengan beberapa petunjuk, hingga mereka mampu mengoperasikan sendiri komputer.
Setelah beberapa bulan beberapa orangtua memberitahu guru-guru bahwa mereka juga membiarkan anak-anak mereka bermain komputer di rumah. PC bukan lagi dimiliki dan digunakan oleh orang dewasa. Anak-anak juga menjadi akrab dengan mesin ini dan siap menghadapi dunia teknologi modern. Sangat baik dan berguna untuk anak-anak mengenal komputer. Ini dapat membantu mereka mengikuti perintah dengan teratur, mengajar mereka untuk sabar, mengasah motorik halus mereka dan menunjang kecerdasan dengan games edukatif. Tidak terlalu dini memperkenalkan PC pada anak-anak usia dini, anda juga bisa mencoba bila belum pernah. Tapi tetap saja Anda juga harus mendampingi anak-anak anda. Selamat mencoba.

Read More......

Saturday, August 9, 2008

Paket Aplikasi Sekolah

PAS adalah paket aplikasi untuk membantu administrasi sekolah seperti, administrasi kepegawaian, administrasi siswa, administrasi akademik dan administrasi keuangan. Download file instalasi PAS, jalankan file tersebut untuk instalasi PAS 2006 (PAS2006.exe).



PAS edisi terakhir
Paket Aplikasi Sekolah Versi 10.1.0.238 (diluncurkan tanggal 04 Mei 2007; 113.888 KB)
PAS edisi sebelumnya
Paket Aplikasi Sekolah Versi 3.1.1.1 (diluncurkan tanggal 07 Februari 2007; 111.204 KB)
Paket Aplikasi Sekolah Versi 1.0.1 (diluncurkan tanggal 9 Agustus 2006; 89,2 MB)
Dukumen PAS
Persiapan Sebelum Installasi (dalam format PDF; 366 KB)
Navigasi Menu (dalam format PDF; 29 KB)
Manual Installasi PAS (dalam format PDF 573 KB)


Patch - PAS 2006
Patch Versi 1.0.2 (diterbitkan tanggal 11 Agustus 2006 ; 3,6 MB)
Patch versi 1.0.2 untuk memperbaiki entri data, jadwal pelajaran pada hari Selasa, dan entri siswa pindahan. Jalankan PAS-Patch 1.0.2.exe untuk melakukan instalasi Patch.

Read More......

Instrument SNBI 2006

Instrument SNBI 2006 digunakan untuk menjaring data (profil) sekolah-sekolah yang mendapat subsidi pengembangan sekolah bertaraf internasional

Read More......

Instrument Leveling

Instrument Penerapan TIK di Sekolah (Leveling) digunakan untuk menjaring data mengenai pemanfaatan TIK di Sekolah dengan sasaran semua SMA di seluruh Indonesia.



Tujuannya adalah untuk mengetahui potensi dan pemanfaatan TIK dalam pembelajaran dan pengolahan sekolah. Selanjutnya instrumen dan form kriteria penilai yang telah diisi, harap dikembalikan ke Direktorat Pembinaan SMA, agar datanya dapat segera diolah. Karena data tersebut akan digunakan sebagai dasar penyusunan program pengembangan SMA kedepan, khususnya dibidang TIK.

Cover panduan pengisian instrument

Panduan pengisian instrument

Instrument untuk leveling sekolah

Instrument untuk tenaga kependidikan Mohon untuk diperbanyak sesuai dengan jumlah tenaga kependidikan (contohnya guru, tu dll)

Instrument untuk siswa (mohon diperbanyak 15 lembar)

Instrument untuk kepala sekolah

Instrument untuk komite sekolah

Cover untuk form kriteria dan penilaian

Instrument form kriteria dan penilaian adalah instrumen yang akan digunakan untuk menskor instrumen yang telah diisi. (diisi oleh guru TIK/ penanggung jawab TIK)

Read More......

KTSP

* KTSP SD
* KTSP SMP
* KTSP SMA
* KTSP SMK
* Model Pengembangan Silabus dan RPP SMP

Read More......

PP dan Kepmen

Kumpulan File File Peraturan Pemerintah dan Keputusan Mentri di bidang Kependidikan dan ketenagakerjaan



* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
* Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah Sekolah/Madrasah
* Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 Tentang Standar Kepala Sekolah Sekolah/Madrasah
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah
* Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah
* Prosedur Operasi Standar (POS) Ujian Nasional 2006/2007
* Prosedur Operasi Standar (POS) Ujian Sekolah 2006/2007
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2007 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 2007 Tentang Ujian Sekolah/Madrasah Tahun Pelajaran 2006/2007
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2006 Tentang Ujian Sekolah/Madrasah Tahun Pelajaran 2006/2007
* Lampiran Peraturan Menteri Pendidkikan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2006 Tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007
*Peraturan Menteri Pendidkikan Nasional Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2007 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 45 Tahun 2006 Tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007
* Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2006 Tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2006 Tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2006/2007
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.
*Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
* Keputusan Mendiknas tentang Anggota BSNP periode 2005-2009.
* Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.


Read More......